Wamenkeu Juda: Manajemen Risiko Hadapi Ketidakpastian Global
- account_circle pusaran.news
- calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
- print Cetak

Wamenkeu Juda: Manajemen Risiko Hadapi Ketidakpastian Global
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUSARAN.NEWS- Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menekankan pentingnya manajemen risiko, adaptivitas, dan koordinasi untuk menghadapi ketidakpastian global. Hal ini disampaikan pada Townhall Meeting dan Halalbihalal Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) di Gedung Frans Seda, Jakarta, 31 Maret 2026.
Juda Agung mengapresiasi kinerja DJPPR sepanjang 2025 yang berhasil penuhi kebutuhan pembiayaan pemerintah. Biaya terjaga, terbukti dari penerbitan dim sum bond di Hong Kong dan obligasi euro yang kompetitif.
Juda mengingatkan kondisi global diwarnai ketidakpastian tinggi, seperti ketegangan geopolitik Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Dampaknya pada pasar keuangan terlihat dari kenaikan imbal hasil dan pelemahan nilai tukar rupiah yang memerlukan intervensi besar.
Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah tidak bisa diam dan harus menerapkan manajemen risiko yang cermat. “Jadi kita memang hidup di dalam era yang penuh ketidakpastian dan risiko. Nah dihadapkan pada tantangan tersebut tentu saja kita kan gak bisa diam.
Memang kita harus manajemen risiko, ini memang perlu decision making under uncertainty,” ujar Wamenkeu Juda.
Juda menjelaskan risiko terukur probabilitasnya, beda dengan ketidakpastian yang tidak. Pemerintah harus menyiapkan skenario kebijakan, termasuk antisipasi harga minyak dan dampaknya pada fiskal.
Defisit anggaran masih diproyeksikan terjaga di bawah batas 3 persen, meskipun berada pada level yang cukup ketat. Juda menekankan pentingnya kewaspadaan menjaga ruang fiskal agar tidak melampaui batas aman.
Organisasi harus adaptif dan lincah (agile), baik individu maupun institusi. Penyesuaian pada perubahan penting, namun integritas sebagai prinsip dasar tidak boleh ditinggalkan.
“Fleksibilitas sangat penting selama tidak melanggar prinsip. Kita harus adaptif terhadap perubahan kebijakan dan lingkungan,” katanya.
Juda mengingatkan pentingnya koordinasi tanpa silo antarunit, baik internal Kementerian Keuangan maupun eksternal. Koordinasi fiskal-moneter dengan Bank Indonesia dan mitra lain dinilai sudah berjalan baik, terutama dalam pengelolaan pembiayaan dan penerbitan Surat Utang Negara.
Redaktur: Wae
Sumber: Kemenkeu
- Penulis: pusaran.news
