Kementan Siapkan Mitigasi Kemarau 2026 Jaga Produksi Pangan Nasional
- account_circle pusaran.news
- calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
- print Cetak

Pompanisasi dan Pupuk Terjaga, Petani Tetap Produksi di Tengah Kemarau
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUSARAN.NEWS- Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan kesiapan nasional menghadapi potensi kemarau panjang 2026. Langkah mitigasi kemarau 2026 telah disiapkan untuk menjaga stabilitas produksi pangan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan produksi pangan nasional tetap terkendali. Ini dilakukan meskipun menghadapi dinamika iklim yang menantang di tahun 2026.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan langkah mitigasi pemerintah. “Pemerintah telah menyiapkan Langkah-langkah strategis, mulai dari pemetaan wilayah rawan kekeringan berbasis early warning system, optimalisasi pengelolaan air melalui rehabilitasi jaringan irigasi, embung, serta pemanfaatan pompanisasi dan perpipaan,” ujar Mentan Amran.
Proyeksi iklim menunjukkan kemarau 2026 akan lebih panjang dan intens. Kondisi ini telah diantisipasi dengan penguatan mitigasi berbasis wilayah dan percepatan intervensi lapangan.
Sentra produksi di Pulau Jawa berpotensi alami penurunan air irigasi, mengganggu pola tanam. Kementan merespons dengan optimalisasi pompa air dan sumber air permukaan di wilayah rawan kekeringan.
Langkah ini dikoordinasikan sejak awal ke seluruh daerah, bukan bersifat reaktif. Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menegaskan pompanisasi kunci stabilitas produksi saat kemarau.
Ia menambahkan, “Optimalisasi pompanisasi menjadi langkah strategis untuk mengamankan produktivitas pertanian di tengah musim kemarau. Dengan dukungan sarana pompa air, petani tetap dapat mengakses sumber air alternatif, sehingga kegiatan budidaya tidak terhenti.
Pada periode 2023 hingga 2025, Kementerian Pertanian telah menyalurkan sebanyak 80.158 unit pompa air ke sebagai bagian dari penguatan sistem mitigasi kekeringan di tingkat lapangan, dan pada tahun 2026 ini ditargetkan 11.00 unit pompa air bisa dialokasikan untuk seluruh Indonesia,” tegasnya di Jakarta (21/4).
Selain infrastruktur air, Kementan juga memastikan ketersediaan sarana produksi utama terjaga. Pupuk subsidi menjadi faktor kunci efisiensi biaya usaha tani di tengah tekanan iklim.
Amran Sulaiman menerangkan ketersediaan pupuk subsidi masih sangat cukup per 20 April 2026. “Hingga saat ini ketersediaan pupuk subsidi masih sangat cukup. Per 20 April 2026, dari alokasi sebesar 9,55 juta ton, masih tersedia sekitar 7 juta ton yang dapat dimanfaatkan oleh petani di seluruh Indonesia.
Ketersediaan ini menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi sekaligus memberikan keringanan biaya produksi bagi petani,” terang Andi.
Redaktur: Wae
Sumber: Kementan
- Penulis: pusaran.news
