BPOM dan TGA Australia Perkuat Regulasi Obat dan Vaksin
- account_circle pusaran.news
- calendar_month Senin, 2 Mar 2026
- print Cetak

BPOM dan TGA Australia Perkuat Regulasi Obat dan Vaksin
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUSARAN.NEWS- Badan POM dan Therapeutic Goods Administration (TGA) Australia memperkuat kerja sama pengawasan obat serta vaksin. Pertemuan bilateral ini berlangsung di Kantor BPOM, Jakarta, Senin (2/3/2026), sebagai bagian kemitraan strategis.
Delegasi Australia dipimpin Gita Kamath, Deputy Head of Mission of Australian Embassy, Indonesia. Turut hadir Anthony Lawler dan Michael Wiseman dari TGA, menegaskan pentingnya kolaborasi regulasi.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan kemitraan BPOM dan TGA telah berkembang strategis. “Merupakan suatu kehormatan bagi kami dapat menyambut delegasi TGA dan Kedutaan Besar Australia di BPOM hari ini. Kami sangat menghargai kemitraan yang kuat dan konstruktif yang terus berkembang dalam substansi dan kepentingan strategis,” ujarnya.
Taruna Ikrar menambahkan, pertemuan ini mencerminkan komitmen kolaborasi regulasi berbasis sains. “Kami ingin memastikan bahwa kerja sama ini memberikan dampak nyata bagi perlindungan kesehatan masyarakat, mendorong inovasi, sekaligus memperkuat stabilitas regional di kawasan Pasifik Barat WHO,” lanjut Kepala BPOM.
Kerja sama ini kelanjutan kunjungan resmi Kepala BPOM ke Canberra pada Agustus 2025. Saat itu, diluncurkan Program Magang Perdana di bawah skema Regulatory Strengthening Program (RSP) Indo-Pasifik.
Tim BPOM mendapatkan penugasan di TGA pada bidang farmakovigilans, evaluasi izin edar, dan sistem regulasi. Program ini dinilai strategis dalam pengembangan perkuatan BPOM sebagai regulator.
Taruna Ikrar menilai program magang tersebut sangat berharga untuk pembangunan kapasitas. “Program magang ini menjadi inisiatif pembangunan kapasitas yang sangat berharga. Transfer pengetahuan dan pengalaman langsung dari TGA mempercepat transformasi sistem pengawasan nasional menuju pendekatan yang lebih adaptif, efisien, dan berbasis risiko,” ujar Kepala BPOM.
Selain pengembangan SDM, kedua regulator membahas penguatan regulasi terapi lanjutan seperti Advanced Therapy Medicinal Products (ATMPs) dan terapi gen. Mereka juga fokus pada sistem uji klinis, regulasi rokok elektrik, serta produk nikotin baru.
BPOM menjajaki mekanisme asesmen bersama guna mempercepat akses terhadap obat inovatif. Selain itu, BPOM mengusulkan penguatan reliance regulasi bilateral berlandaskan prinsip Good Reliance Practices WHO.
Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan reliance berbasis saling percaya meningkatkan efisiensi regulasi. “Kami melihat reliance berbasis saling percaya sebagai instrumen untuk meningkatkan efisiensi regulasi tanpa mengurangi independensi dan kewenangan nasional. Harmonisasi regulasi akan menjadi pendorong utama dalam memperkuat sistem pengawasan di kawasan,” tegas Kepala BPOM.
Anthony Lawler dari TGA menyambut baik usulan tersebut, menilai Indonesia mitra penting. “TGA memandang BPOM sebagai regulator yang semakin matang dan kredibel. Status WHO-Listed Authority yang kini dimiliki kedua negara membuka peluang untuk jalur reliance yang lebih terstruktur dan kolaborasi teknis yang lebih mendalam,” tuturnya.
Indonesia dan Australia telah memperoleh status WHO-Listed Authority (WLA), pengakuan global atas kapasitas sistem regulasi. Momentum ini strategis untuk memperluas kolaborasi dan mendukung negara lain mencapai WHO Maturity Level 3 (ML3).
BPOM mempromosikan potensi Indonesia sebagai hub uji klinik multinasional dengan sistem regulasi terintegrasi. Indonesia menawarkan populasi besar, beragam, serta jejaring rumah sakit dan peneliti klinik luas.
Isu e-labelling dan rencana penerapan persetujuan bersyarat (provisional approval) menjadi fokus pembahasan. Indonesia berencana memperluas pelabelan digital untuk akses informasi produk andal dan swamedikasi aman.
BPOM menyatakan minat bertukar pandangan dengan TGA mengenai persyaratan data pre-market. Diskusi juga mencakup data konfirmasi post-market, manajemen risiko, farmakovigilans, serta pemantauan siklus hidup produk kesehatan.
Deputy Head of Mission of Australian Embassy Gita Kamath menegaskan dukungan pemerintah Australia. “Pemerintah Australia melihat kolaborasi BPOM dan TGA sebagai pilar penting dalam hubungan strategis Indonesia-Australia. Kerja sama ini berkontribusi pada ketahanan kesehatan kawasan Indo-Pasifik dan penguatan sistem regulasi regional,” ujarnya.
Kedua pihak membahas tantangan regulator ke depan, termasuk terapi gen dan resistansi antimikroba. Percepatan inovasi teknologi kesehatan memerlukan respons regulasi gesit berbasis bukti ilmiah.
Di sisi lain, Badan POM juga menyampaikan pengumuman penting bagi pengguna layanan e-Sertifikasi. Pengumuman ini merespons indikasi peningkatan upaya penipuan yang mengatasnamakan proses layanan tersebut.
Pelaku usaha diimbau tidak menindaklanjuti permintaan mencurigakan dan segera konfirmasi melalui kanal resmi. Pengumuman ini dirilis pada 2 Maret 2026 oleh Biro Kerja Sama dan Humas, telah dilihat 210 kali.
Menutup pertemuan, Kepala BPOM Taruna Ikrar menegaskan kerja sama ini bagian arsitektur kesehatan kawasan. “BPOM tetap berkomitmen pada kemitraan regulasi yang transparan, berbasis sains, dan kolaboratif dengan TGA dan Pemerintah Australia. Kami berharap dapat semakin memperkuat kemitraan tepercaya ini demi kesehatan masyarakat Indonesia serta masyarakat dunia,” pungkasnya.
Redaktur: Wae
Sumber: BPOM
- Penulis: pusaran.news
