Sinergi Akademik-Bisnis Cetak Pencipta Lapangan Kerja Nasional
- account_circle pusaran.news
- calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
- print Cetak

Kemendag Tekankan Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Pelaku Usaha Kunci Cetak Wirausaha Muda Tangguh | Kementerian Perdagangan Republik Indonesia
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUSARAN.NEWS- Peningkatan kapasitas perguruan tinggi dalam mencetak pencipta lapangan kerja menjadi prioritas nasional. Hal ini dapat tercapai melalui sinergi erat antara dunia akademik, pemerintah, dan sektor usaha.
Pernyataan tersebut disampaikan Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Kementerian Perdagangan, Johni Marta. Ia berbicara dalam diskusi panel peluncuran program Campuspreneur di Surakarta, Jawa Tengah, Rabu (1/4).
Narasumber lain meliputi Direktur Pemasaran Produk Dalam Negeri, Dewi Rokhayati, serta Kepala Pusat Pengembangan SDM Ekspor dan Jasa Perdagangan, Sugih Rahmansyah. Partisipasi mereka memperkaya diskusi panel Campuspreneur di Surakarta.
Kasubdit Kewirausahaan Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS), Susantiningrum, juga hadir sebagai narasumber. Beliau memberikan perspektif dari kalangan akademisi dalam acara Campuspreneur ini.
Agung Tianara (Deputi 3 Marketing & Partnership Hippindo) dan Purwanto Wahjudi (Wakil Ketua Umum Bidang Kemitraan UMKM Aprindo) turut berbicara. Kehadiran mereka menegaskan kolaborasi penting lintas sektor.
Johni Marta menegaskan, “Di tengah dinamisnya fase transformasi ekonomi yang terjadi saat ini, kolaborasi dunia akademik, pemerintah, serta dunia usaha menjadi suatu keharusan.” Sinergi ini merupakan fondasi vital bagi kemajuan bangsa.
Johni melanjutkan, “Dengan sinergi yang berkelanjutan, ketiga pihak tersebut turut menjadi penentu arah perkembangan dunia kewirausahaan nasional.” Kolaborasi ini krusial bagi inovasi dan daya saing.
Johni menuturkan, resiliensi sektor perdagangan Indonesia patut disyukuri karena tetap kokoh. Data Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia 2025 terjaga impresif USD 282,91 miliar.
Capaian ini diperkuat surplus neraca perdagangan yang konsisten selama lima tahun berturut-turut. Namun, Johni mengingatkan agar tidak cepat berpuas diri atas pencapaian makro ekonomi tersebut.
Johni mengingatkan, “Struktur ekspor nasional masih perlu diperkuat karena dominasi komoditas sumber daya alam masih cukup tinggi.” Penguatan ini krusial untuk menciptakan ekonomi yang lebih beragam.
Ia menambahkan, “Kontribusi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) terhadap ekspor nasional baru berada pada kisaran 15–16 persen.” Potensi UMKM ini masih sangat besar dan belum tergarap optimal.
Menurutnya, “Masih terdapat ruang sangat besar untuk mendorong lahirnya eksportir baru, terutama dari kalangan generasi muda dan lingkungan perguruan tinggi.” Peluang ini penting bagi pertumbuhan ekonomi inklusif.
Kementerian Perdagangan terus melaksanakan kebijakan untuk mempertahankan kondisi perdagangan nasional. Program Campuspreneur menjadi upaya membangun ekosistem kewirausahaan yang komprehensif.
Campuspreneur bukan pelatihan kewirausahaan konvensional, melainkan upaya sistematis. Program ini akan melakukan penguatan kapasitas, pendampingan produk, serta akselerasi jaringan.
Johni melanjutkan, kewirausahaan kini kebutuhan strategis bangsa untuk memperkokoh kedaulatan ekonomi. Tantangan dunia usaha berevolusi, sehingga keberanian memulai saja tidak lagi cukup.
Wirausaha masa kini harus berpijak pada tiga pilar utama untuk sukses. Pilar tersebut adalah orientasi global, berbasis kualitas dan inovasi, serta kepatuhan standar internasional.
Redaktur: Wae
Sumber: Kemendag
- Penulis: pusaran.news
