PUSARAN.NEWS- Menteri PANRB Rini Widyantini menegaskan pentingnya pengembangan kompetensi ASN dan ekosistem manajemen talenta kolaboratif sebagai fondasi birokrasi profesional. Pernyataan ini disampaikannya saat Kunjungan Kerja Spesifik Komisi II DPR RI di Poltek STIA LAN Bandung, Rabu (11/3/2026).
Rini menyoroti pergeseran paradigma dari egosystem menjadi ecosystem terintegrasi untuk penguatan pengembangan kompetensi. Kolaborasi pentahelix antara pemerintah, swasta, akademisi, media, dan komunitas menjadi kunci utama.
“Perubahan ini mendorong pemerintah, swasta, akademisi, media, dan komunitas bekerja secara kolaboratif. Pemerintah dapat bermitra dengan sektor swasta untuk memperluas akses teknologi dan membuka peluang internship serta detasering bagi talenta,” tegas Menteri PANRB Rini Widyantini.
Menteri Rini menjelaskan, terdapat 125 PTN di bawah Kemendiktisaintek dan 74 PTN di bawah Kementerian Agama. Data juga menunjukkan 30 Sekolah Kedinasan dan 86 PTKL tersebar di berbagai instansi.
“Keberadaan dan jejaring perguruan tinggi ini menjadi modal strategis dalam mendukung penguatan manajemen ASN serta percepatan reformasi birokrasi melalui pengembangan kompetensi, riset kebijakan, dan inovasi tata kelola pemerintahan,” imbuh Menteri Rini.
Data BKN per 1 Februari 2026 mencatat 121.150 ASN dosen di Kementerian/Lembaga. Mayoritas adalah PNS (91%), PPPK (8,8%), dan PPPK Paruh Waktu (0,2%).
“Ini menjadi modal penting bagi penguatan kapasitas akademik dan kelembagaan,” terang Menteri Rini. Potensi sumber daya ini strategis mendukung pengembangan kebijakan, riset, dan inovasi manajemen ASN serta percepatan reformasi birokrasi.
Kementerian PANRB sedang menyusun Desain Besar Reformasi Birokrasi Nasional (DBRBN) 2025-2045. Ini bertujuan mewujudkan Birokrasi Berkelas Dunia pada tahun 2045.
Tiga pilar utama DBRBN adalah kolaborasi birokrasi dalam pembangunan nasional serta peningkatan kapabilitas birokrasi. Pilar lainnya adalah budaya birokrasi yang berintegritas dan melayani dalam menghadapi tantangan global.
Kapabilitas kelembagaan, pelayanan publik inklusif, dan transformasi digital juga menjadi kunci sukses. Hal ini penting untuk mencapai tujuan birokrasi berkelas dunia.
“Selain itu, kapabilitas kelembagaan, pelayanan publik yang inklusif dan transformasi digital juga merupakan kunci sukses dalam mencapai tujuan ini,” jelasnya.
Paradigma manajemen ASN kini menempatkan rekrutmen berbasis kompetensi sebagai kunci utama birokrasi profesional. Rekrutmen asal-asalan memicu layanan buruk, investasi menurun, dan peningkatan pengangguran.
“Sebaliknya, rekrutmen yang selektif menciptakan birokrasi andal, layanan publik cepat, dan iklim investasi yang kondusif,” ungkapnya.
Perguruan tinggi dan para dosen berperan strategis membentuk kompetensi, karakter, dan pola pikir ASN. Ini dilakukan melalui pendidikan, riset, dan inovasi selaras kebutuhan birokrasi masa depan.
Perguruan tinggi diharapkan berkontribusi nyata melalui pengembangan ilmu terapan. Kontribusi ini harus mendukung program prioritas pembangunan nasional dan agenda Presiden.
“Saya berharap, Politeknik STIA LAN Bandung sebagai salah satu institusi pendidikan kedinasan memiliki kontribusi penting dalam menyiapkan aparatur negara yang adaptif terhadap perubahan serta mampu menjawab berbagai tantangan tata kelola pemerintahan yang semakin kompleks,” ujarnya.
Redaktur: Wae
Sumber: Kemenpan RB