Prabowo Dorong Percepatan EBT: PLTS 100 GW & Transisi Energi
- account_circle pusaran.news
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- print Cetak

Kurangi Ketergantungan Energi Fosil, Pemerintah Percepat Pemanfaatan EBT
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUSARAN.NEWS- Presiden RI Prabowo Subianto menugaskan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi. Penugasan ini bertujuan mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT) melalui pembangunan PLTS skala besar serta program konversi motor listrik.
Langkah ini diambil di tengah upaya global mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Presiden Prabowo menegaskan komitmen tersebut pada acara Syukuran Hari Ulang Tahun (HUT) ke-1 Danantara Indonesia di Jakarta, Rabu (11/3).
Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo menyatakan niat swasembada energi yang ditargetkan tercapai dalam empat tahun ke depan. Ia menekankan, “Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, yang kita yakin akan tercapai dalam 4 tahun.”
Target ini menuntut upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang dimiliki Indonesia. “Dengan akselerasi ini kita yakin permasalahan energi ini dapat terselesaikan,” imbuh Presiden Prabowo.
Prabowo juga mengingatkan bahwa banyak negara sedang menghadapi krisis energi yang lebih berat dibandingkan Indonesia yang kaya sumber alternatif. Ia menyebut potensi kelapa sawit, singkong, jagung, tebu, serta cadangan panas bumi terbesar kedua di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya.
Salah satu langkah untuk menghindari krisis adalah meningkatkan kapasitas pembangkit listrik berbasis EBT di tanah air. Presiden telah memerintahkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Giga Watt (GW) kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
“Kita akan melaksanakan eletrikifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya,” tegasnya. Pembangunan 100 GW PLTS ini merupakan keputusan dan perintah langsung dari Presiden untuk dibuktikan kepada dunia.
“Itu sudah perintah saya. Itu sudah keputusan saya dan kita akan buktikan kepada dunia bahwa kita lebih cepat dan efektif dalam hal ini,” jelas Prabowo.
Di tempat terpisah, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan perintah Presiden Prabowo bertujuan memperkuat ketahanan energi nasional.
Bahlil menyampaikan hal ini pada tayangan Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu (11/3). Ia menjelaskan, pembangkit listrik saat ini masih mengandalkan diesel, sebagian batubara, dan sebagian gas.
“Arahan Bapak Presiden, agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt,” kata Bahlil. Pembangunan PLTS berskala besar itu dimaksudkan untuk mendorong percepatan transisi energi.
Transisi ini memanfaatkan berbagai sumber alternatif yang melimpah di Indonesia. “Optimalisasi pemanfaatan EBT kita lakukan bukan dengan PLTS saja, tapi juga dengan mempergunakan seluruh sumber daerah kita, seperti geothermal, maupun air,” jelas Bahlil.
Pemanfaatan pembangkit berbasis EBT seperti ini akan mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil impor dari luar negeri. “Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil,” tutup Bahlil.
Redaktur: Wae
Sumber: ESDM
- Penulis: pusaran.news
