Pemerintah Kaji CNG Nasional, Optimalkan Penggunaan Gas Domestik

Foto: kementerian-esdm-masuk-nominasi-8-besar-percepatan-pelaksanaan-berusaha-bkpm">Kementerian ESDM Masuk Nominasi 8 Besar Percepatan Pelaksanaan Berusaha BKPM

PUSARAN.NEWS- Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengkaji pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) untuk optimasi gas domestik. Kajian pemanfaatan CNG nasional ini bertujuan mencapai kemandirian energi dan substitusi LPG yang sebagian besar masih impor.

Ketergantungan pada impor LPG menjadi perhatian utama, mengingat konsumsi nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, produksi domestik hanya berkisar 1,6 sampai 1,7 juta ton, sisanya dipenuhi dari luar negeri.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan, rencana pemanfaatan CNG masih dalam tahap pembahasan serius. Pihaknya akan segera memfinalisasi kajian ini untuk mencapai kemandirian energi di sektor LPG nasional yang berkelanjutan.

“Sekarang lagi masih dalam pembahasan, yang tadi saya laporkan, adalah kita membuat CNG. Tapi ini masih dalam pembahasan, saya harus finalisasi, dan ini salah satu alternatif terbaik untuk kita mendorong agar kemandirian energi kita di sektor LPG bisa dapat kita lakukan,” ujar Bahlil Lahadalia.

Pernyataan tersebut disampaikan usai Rapat Terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara Jakarta, Senin (27/4).

Bahlil Lahadalia menerangkan, bahan baku CNG berasal dari gas cair C1 dan C2 yang dipadatkan hingga tekanan tertentu. Gas cair C1-C2 ini adalah gas alam, didominasi metana (C1) dan etana (C2), serta banyak tersedia dari industri dalam negeri.

“Kalau CNG itu adalah dari gas, tapi dia dari gas cair C1, C2. Dan itu industri di dalam negeri kita banyak.

Tetapi dia memakai satu alat yang kemudian bisa ditekan sampai dengan 250 sampai 400 bar, tekanannya. Sehingga pemakaiannya itu bisa baik.

Tapi sekali lagi ini masih dalam tahap konsolidasi agar kita bisa mencapai hasil yang lebih baik,” jelas Bahlil. Ketersediaan bahan baku domestik ini menjadi nilai tambah bagi pengembangan pemanfaatan CNG secara nasional.

Compressed Natural Gas (CNG) telah banyak dimanfaatkan oleh sektor industri seperti perhotelan, restoran, dan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG). Saat ini, 57 badan usaha niaga bergerak di bidang CNG, seluruhnya menggunakan bahan baku dari dalam negeri.

“Tapi kalau untuk CNG, itu sebagian sudah dipakai. Untuk hotel, restoran, itu sudah dipakai.

Sebagian SPBG sudah juga dipakai. Dan itu bahan bakunya tidak kita impor, semuanya dalam negeri.

Nah ini yang coba kita, kita cari alternatif. Karena di era geopolitik yang tidak menentu, kita harus mencari formulasi untuk mencapai survival mode.

Semua produksi yang ada di dalam negeri, itu yang kita prioritaskan,” tandas Bahlil Lahadalia. Prioritas pemerintah adalah mengoptimalkan seluruh produksi energi yang tersedia di dalam negeri, terutama di tengah kondisi geopolitik global.

Pemanfaatan CNG juga merupakan salah satu strategi pemerintah menghadapi krisis energi global yang tidak menentu saat ini. Langkah ini melengkapi upaya lain seperti optimalisasi lifting migas, diversifikasi BBM melalui B50, serta pengembangan diversifikasi LPG seperti Dimetil.

Redaktur: Wae

Sumber: ESDM

pusaran.news: