Indonesia dan Korea Selatan Kuatkan Kerja Sama Energi Hijau

Foto: kementerian-esdm-masuk-nominasi-8-besar-percepatan-pelaksanaan-berusaha-bkpm">Kementerian ESDM Masuk Nominasi 8 Besar Percepatan Pelaksanaan Berusaha BKPM

PUSARAN.NEWS- Pemerintah Indonesia dan Korea Selatan resmi menyepakati kerja sama energi hijau di tengah gejolak geopolitik global. Kesepakatan ini bertujuan memperkuat kemandirian serta kedaulatan energi nasional kedua negara.

Fluktuasi harga energi fosil akibat konflik di Timur Tengah mendorong komitmen menjaga stabilitas pasokan energi. Kondisi ini melahirkan kesepakatan bisnis energi hijau yang strategis antara kedua negara.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dan Menteri Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan Kim Sungwhan meneken Memorandum Saling Pengertian (MSP) atau MoU. Penandatanganan ini menjadi tindak lanjut dari komitmen bersama untuk transisi energi.

Pengumuman kesepakatan penting ini berlangsung saat pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Acara tersebut diadakan di Blue House, Seoul, Korea Selatan, pada Rabu (1/4) pagi waktu setempat.

“MSP ini penting sebagai fondasi bagi kedua belah pihak dalam mendorong transisi energi, khususnya energi hijau sesuai kemampuan negaranya masing-masing,” tegas Bahlil. Ia menambahkan, “(Energi terbarukan) Ini bagus buat kita ke depan.

Jangan sampai ditunda lagi pemanfaatannya.”

Bahlil menerangkan hal tersebut. “Korea ini kan sahabat lama Indonesia. Jadi kita sama-sama tahu kelebihan dan potensi energi masing-masing.

Kalau saling melengkapi bisa memperkuat kemandirian energi sesuai arahan Bapak Presiden,” jelasnya.

Kerja sama kedua negara dalam kerangka MSP diarahkan pada beberapa sektor strategis. Ini meliputi pengembangan energi terbarukan seperti surya, angin, dan panas bumi.

Kolaborasi juga mencakup pemanfaatan energi masa depan seperti nuklir dan hidrogen. Penguatan sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS) turut menjadi fokus utama.

Efisiensi energi, bioenergi, serta pengolahan limbah menjadi energi juga masuk dalam kerangka MSP. Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pendukung juga menjadi prioritas kolaborasi.

Pembangunan infrastruktur pendukung tersebut mencakup jaringan listrik pintar, stasiun pengisian kendaraan listrik, dan industri baterai. Cakupan industri baterai ini dari hulu hingga daur ulang.

Bahlil menambahkan dukungan. “Termasuk juga dukungan bagi sistem energi terpadu di pulau-pulau mandiri energi supaya manfaat energi bersih bisa dirasakan lebih luas, termasuk di wilayah terpencil.”

Melalui kerja sama ini, Bahlil berharap dapat memfasilitasi alih teknologi, meningkatkan nilai investasi, serta mendorong pengembangan sumber daya manusia. Hal ini bertujuan menciptakan SDM yang berdaya saing global.

Pada pertemuan dengan Presiden Lee, Presiden Prabowo Subianto menyatakan pentingnya hubungan bilateral Indonesia-Korea Selatan. Ini sangat krusial, terutama pada kondisi global yang tidak menentu saat ini.

Redaktur: Wae

Sumber: ESDM

pusaran.news: