Menko PMK Pratikno Sebut Nilai Nyepi Relevan di Dunia Bising
- account_circle pusaran.news
- calendar_month Sabtu, 18 Apr 2026
- print Cetak

Menko PMK: Nilai Nyepi Relevan di Tengah Kebisingan Dunia, Jadi Fondasi Karakter dan Kebijaksanaan
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PUSARAN.NEWS- Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menegaskan nilai-nilai Hari Suci Nyepi sangat relevan di tengah dunia yang kian bising. Ini menjadi fondasi penting dalam membangun karakter, kejernihan berpikir, serta kebijaksanaan hidup bermasyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Menko PMK saat memberikan sambutan pada kegiatan Dharma Shanti Nasional Perayaan Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948/2026 M. Acara ini berlangsung di Ardha Chandra, Art Center Bali, pada Jumat (17/4/2026) lalu.
Menko PMK menyampaikan derasnya arus informasi, media sosial, dan dinamika kehidupan modern kerap membuat manusia kehilangan ruang hening. Kondisi ini menyulitkan individu untuk melakukan refleksi diri secara mendalam dan bermakna.
Pratikno menyoroti kondisi dunia yang dibanjiri informasi tanpa henti, namun seringkali tidak sempat dicerna dengan baik. “Saat ini dunia sedang sangat bising. Kita dibanjiri informasi tanpa henti, tetapi jangan-jangan sangat sedikit yang sempat kita cerna.
Tanpa kita sadari kita tidak sempat untuk hening,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam situasi tersebut respons emosional kerap muncul lebih cepat dibandingkan kebijaksanaan. Oleh karena itu, nilai-nilai reflektif seperti yang diajarkan dalam Nyepi menjadi semakin penting bagi kehidupan.
Pratikno menjelaskan bagaimana Nyepi mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak dan menata kembali berbagai hubungannya. “Kemarahan lebih cepat daripada kebijaksanaan, ketersinggungan lebih cepat daripada pengertian. Nyepi mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, untuk hening, melihat ke dalam, dan menata kembali hubungan kita dengan diri sendiri, sesama, alam, dan Tuhan,” jelasnya.
Lebih lanjut, Menko PMK menguraikan tiga nilai utama dalam Nyepi yang dinilai sangat relevan dalam kehidupan saat ini. Ketiga nilai tersebut adalah Amati Geni, Amati Lelungan, dan Amati Lelanguan.
Menurutnya, Amati Geni mengajarkan pengendalian diri agar tidak mudah terpancing emosi dan amarah. Ini sangat penting, terutama di ruang digital yang kerap dipenuhi konflik dan polarisasi tajam.
Pratikno menegaskan pentingnya menahan diri dari amarah dalam perbedaan pandangan. “Melalui amati geni kita belajar menahan api amarah dan kebencian. Dalam perbedaan, kita diajak untuk tetap tenang dan tidak mudah terpancing,” tegasnya.
Sementara itu, Amati Lelungan dimaknai sebagai ajakan untuk memperkuat hubungan sosial dengan lebih hadir nyata. Ini berarti lebih peduli pada keluarga dan lingkungan terdekat secara fisik, bukan hanya virtual.
Ia mengingatkan pentingnya komunikasi yang tulus meskipun berkumpul secara fisik. “Banyak yang berkumpul secara fisik, tetapi tidak benar-benar berkomunikasi. Kita perlu kembali duduk bersama, mendengarkan keluarga, dan peduli pada lingkungan terdekat,” ungkapnya.
Kemudian, Amati Lelanguan mengandung makna pengendalian diri dari kesenangan yang berlebihan. Nilai ini sekaligus membangun kepekaan sosial terhadap sesama manusia dan juga lingkungan sekitar.
Pratikno menekankan perlunya menahan diri agar hati kembali peka terhadap berbagai isu sosial dan lingkungan. “Kita perlu menahan diri agar hati kembali peka, peka terhadap ketidakadilan sosial dan terhadap bumi yang banyak sekali terluka,” ujarnya.
Menko PMK juga menekankan bahwa nilai-nilai tersebut sangat penting dalam membangun pribadi yang kuat dan berkarakter. Karakter ini krusial untuk menghadapi berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
Ia menyebut bangsa Indonesia membutuhkan pribadi yang tidak mudah terpancing amarah dan lebih suka merangkul. “Bangsa kita membutuhkan pribadi semacam ini. Pribadi yang tidak mudah terpancing, tidak gemar menghakimi, pribadi yang lebih suka merangkul daripada memukul.
Pribadi yang lebih setia pada nilai daripada sensasi,” katanya.
Dalam konteks pembangunan manusia, Menko PMK mengajak seluruh masyarakat, termasuk generasi muda, untuk menanamkan nilai-nilai tersebut. Ini penting demi menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan bijaksana di masa depan.
Redaktur: Wae
Sumber: Kemenko PMK
- Penulis: pusaran.news
